Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Salah Siapa?

0
247

Maraknya pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak di Indonesia menjadi perhatian di kalangan masyarakat. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Kabupaten Lebak, Banten. Entah kesetanan atau memang sudah menjadi setan, seorang ayah tega mencabuli anak kandungnya. Hingga kini si korban (HR) diketahui hamil 5 bulan setelah menjalani pemeriksaan dan visum oleh pihak kepolisian setempat pada hari Rabu, 03 Juli 2019. 
Ini bukan kasus pertama di Kabupaten Lebak , Menurut data Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2018, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 32 kasus dan 7 kasus di awal tahun 2019. Dari sebagian besar kasus ini, tentu yang menjadi korban adalah anak-anakkasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak bisa dikatakan ibarat gunung es Karena banyak yang tidak berani untuk melapor pada pihak yang berwajib. Karena itu orangtua harus mengenali tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan seksual. Tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi bisa berdampak berkepanjangan di kemudian hari. Entah anak akan merasakan trauma, merasa tidak berdaya dan stigmasisasi.Siapa yang Bertanggung Jawab?Di setiap daerah, ada sebuah pusat kegiatan terpadu yang menyediakan layanan bagi masyarakat terutama perempuan dan anak untuk tindak kekerasan yang disebut dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Kita apresiasi penuh apa yang dilakukan oleh P2TP2A Kabupaten Lebak yang menjalankan sebuah langkah kongkrit dalam menanggapi kasus yang menimpa HR. Tapi tanggapan saja tidak cukup jika ingin Indonesia menjadi Negara yang ramah terhadap anak. Tidak cukup hanya dengan mendampingi anak, memberikan support, self healing di rumah singgah atau mengawal persidangan sampai selesai. Karena tugas utama kita sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap jaminan keberlangsungan generasi yang mumpuni adalah upaya pencegahan. Artinya, bukan memberikan perlindungan ketika kasus sudah terjadi, akan tetapi memberi sekat agar kasus-kasus pelecehan terhadap perempuan dan anak dapat diminimalisir sekecil mungkin. Atau bahkan dibabat habis.Pelecehan seksual terhadap anak bukan hanya ada di Indonesia, ini juga yang menjadi isu internasional. Maka dari itu dibutuhkan komitmen dan peningkatan upaya pencegahan dan eksploitasi seksual terhadap anak. Tentu hal ini melibatkan masyarakat dari berbagai elemen.Ketua P2TP2A Kabupaten Lebak Ratu Mintarsih mengatakan salah satu penyebab tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah perkembangan penggunaan teknologi media internet di lingkungan. Pada akhirnya hal tersebut ikut serta menjadi bagian yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang. Tidak terkecuali orang dewasa, atau orangtua kandung sekalipun. Maka tidak heran seorang ayah tega melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya sendiri. Tapi benarkah demikian? Mungkinkah kita menyalahkan benda mati yang sebenarnya bisa dioperasikan dengan lebih bijak? Atau mungkin sebenarnya ada penyebab yang lain?Contoh yang paling konkrit adalah pengetahuan tentang seksual. Zaman sekarang orangtua atau bahkan praktisi anak terlalu canggung dengan kata pendidikan seksual. Karena konotasi yang terbangun, pendidikan seksual adalah mengajarkan anak tentang melakukan seksual. Padahal tidak demikian. Yang dimaksud dalam ruang lingkup pendidikan seksual sejak dini adalah memberi tahu pada anak atau remaja bahwa ada bagian dari tubuhnya tidak boleh disentuh oleh orang selain dirinya sendiri. Jadi tidak salah jika anak usia dini sudah harus diajari tentang anatomi tubuh dan pendidikan seksual. Minimal sejak anak sudah memasuki bangku sekolah menengah pertama. Secara garis besar, kita tidak bisa menyalahkan media sosial dan kata “pendidikan seksual anak”. Jangan-jangan justru kita yang terus bersama kebodohan, takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak kita ketahui isinya seperti apa.Apa Upaya Preventif Kekerasan Seksual Terhadap Anak?Selaras dengan tujuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam upaya pencegahan kekerasan seksual, maka hal utama yang harus dilakukan adalah mendorong penegak hukum untuk memberikan pemberatan hukuman yang seberat-beratnya terhadap pelaku kekerasan terhadap anak, maka ini menjadi pelajaran bagi pelaku agar tidak melakukan hal yang sama.Adanya kebijakan hukum adalah untuk memberikan efek jera terhadap pelaku-pelaku yang lain. Tapi pertanyaanya, apakah pelaku pelecehan seksual terhadap anak yang terkena jeratan hukum tersebut ikut jera? Saya pikir tidak sepenuhnya, karena sebagian besar pelaku sudah masuk pada kelainan kejiwaan. Dalam hal ini nafsu seksual tertuju pada anak, “pedofilia”.Saya sadar betul bahwa Indonesia adalah negara hukum yang mampu memberi ganjaran seadil-adilnya. Aturan terhadap pelecehan seksual anak sudah tercantum di dalam UU No 23 tahun 2002. Karena spesifikasi umur anak belum tertera dengan khusus, maka terbitlah Perppu Pasal 76D UU 35 Tahun 2014. Angka hanya sekedar angka yang terkadang sering diabaikan dan tidak dijadikan momok untuk dihindari. Maka kita perlu aturan hukum yang lebih riil dan nyata.Entah ini terlalu sadis atau bagaimana, dalam posisi melihat fenomena ini saya sangat setuju dengan adanya hukum kebiri untuk pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Mungkin bisa ditambah dengan penjara seumur hidup.Selanjutnya adalah melakukan sosialisasi pecegahan seksual terhadap anak dan kerja sama mulai dari tingkat desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi nasional maupun internasional untuk menghapus kekerasan seksual terhadap anak. Sosialisasi yang tidak hanya turun kemasyarakat langsung, tetapi juga penguasaan terhadap media dan informasi, baik di sosial media, yutub dan jejaring lainnya. Ini tentu menjadi catatan juga untuk P2TP2A sebagaimana tugasnya sebagai pelayanan masyarakat dalam melakukan upaya preventif (pencegahan). Yakni melakukan penyuluhan, kampanye atau pendidikan lainnya kepada publik. Serta melakukan advokasi kebijakan terkait upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.


Penulis : Dwi Putri, Direktur Eksekutif Equality Institute & Volunteer Action Asia Peacebuilders’ Forum 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here