PWI Lebak Kritisi Family Gathering OPD Ke Bandung

0
126

LEBAK–Ketua PWI Lebak Fahdi Khalid menolak ajakan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemkab Lebak yang mengundang bergabung dalam kegiatan family gathering dinas dan mitra kerja.

“Saya atas nama Ketua PWI menolak mengikuti kegiatan tersebut bukan karena kegiatan tersebut tidak sejalan dengan kami, namun tempat kegiatannya yang kami kurang berkenan. Kenapa harus di Bandung? Di Lebak banyak obyek wisata yang sudah aktif. Seharusnya Pemkab Lebak menyosialisasikan pariwisata Lebak salah satunya melalui kegiatan OPD,” kata Fahdi yang akrab dipanggil dengan sebutan Akew.

Bagi Akew, obyek wisata alam di Lebak tersebar hampir di seluruh kecamatan, baik yang telah tereksploitasi maupun yang masih tahap eksplorasi.

“Family gathering itu adalah kegiatan pertemuan anggota keluarga OPD, dan biasanya juga melibatkan mitra kerja. Selain obyek wisata yang sudah disediakan oleh alam, di Lebak ini kan banyak kawasan agro yang bisa dijadikan obyek wisata edukatif. Misalnya di Maja dan Sajira sebagai produsen rambutan atau di Leuwidamar, Bojongmanik, Gunungkenca sebagai wilayah penghasil durian. Adakan di sekitar itu. Berikan edukasi kepada anggota keluarga terutama anak-anak perihal cara menanam, merawat, potensi pasar, hingga kandungan gizi. Saat ini momen tepat. Namanya wisata tematik, atau dikerenkan sedikit menjadi Harvest Tourism (wisata musim panen).

Atau di Sawarna yang terdapat hamparan geopark, termasuk gua. Berikan edukasi perihal terbentuknya batuan tersebut. Libatkan unsur terkait. Sudah harus dimulai. Jangan cenderung dibawa ke luar daerah. Atau bawa ke permukiman adat Baduy. Kan tidak semua anak-anak paham siapa dan darimana orang Baduy itu. Kita harus urun rembug menghidupkan pariwisata. Keriuhan kunjungan wisatawan ke Lebak kan selama ini musiman, hanya pada waktu tertentu,” papar Fahdi kapada wartawan. Fahdi awalnya melempar kritikannya ke publik melalui jejaring media sosial Facebook melalui akun Akew Sapulete.

Gayung bersambut. Kampiun pariwisata di Lebak yaitu Erwin Komara Sukma pun mengeritik pemkab. Dalam unggahan di laman akun Facebook pribadinya, Erwin menyayangkan masih rendahnya kreativitas ijaminasi dalam pengembangan pariwisata di Lebak.

“Pengelolaannya masih primitif. Pejabatnya harus diganti, tidak kreatif dan responsif. Padahal alam menyediakan obyek wisata sangat melimpah, tapi lambat dalam pengembangannya, akibat minim gagasan dan kreasi,” kata Erwin.

Erwin yang akrab dipanggil Aa, adalah mantan Kepala Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, sebelum Sawarna dibagi menjadi dua desa, yaitu Sawarna Induk dan Sawarna Timur. Beliau adalah master terbentuknya masyarakat pariwisata Sawarna seiring Sawarna menjadi terkenal hingga ke mancanegara setelah Aa Erwin dan perangkat desa beserta warga aktif mengenalkan Pantai Ciantir ke publik. Selepas jadi kepala desa, Aa Erwin dipercaya warga duduk sebagai anggota DPRD Lebak dari Partai Demokrat.

Jauh sebelum terkenal hingga ke pelosok Indonesia, dunia peselencar sudah mengenal Sawarna yang memiliki pantai dengan ombak tinggi dan garang. Dulu, puluhan peselancar kelas dunia datang silih berganti. Dalam lima tahun terakhir, ratusan peselancar mancanegara datang ke Sawarna hanya untuk merasakan ganasnya ombak laut selatan yang eksotik.

“Saya setuju ke Akew. Seharusnya pejabat pemkab memilih obyek wisata di Lebak daripada di luar Lebak,” ujar Mumu Mahmudi, aktivis pariwisata yang menjadi Koordinator Balawista Pantai Bagedur, Kecamatan Malingping.(Die)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here