AJARAN TAUHID ADA SEJAK ISLAM BELUM ADA.

0
125

Hikmah Ramadhan

AJARAN AJI MUNDI JATI SASONGKO JATI PADA MASA KERAJAAN DI PULAU JAWA DIMASA RATUSAN TAHUN YANG LALU, JIKA DITINJAU DARI PERSEPEKTIF ISLAM ADALAH AJARAN TAUHID DENGAN MENGENAL SIFAT SIFAT ALLAH SWT.

SUARA NUSANTARA NEWS.Net

Ajaran Aji Mundi Jati Sasongko Jati yang ada sejak jaman ribuan tahun yang silam khususnya di pulau jawa adalah merupakan ajaran sebelum islam ada sekitar abad ke 13. Ajaran ini jika ditinjau dari perspektif islam adalah merupakan ajaran ilmu tauhid yang dibawa oleh pendakwah islam atau para wali songo dipulau jawa. Penulis dapat mengambil beberapa referensi dari beberapa sumber buku di perpustakaan umum dan beberapa sumber ahli sejarah di indonesia.

Pembaca dipersilahkan untuk menyimak dan mulai melakukan kajian agar menjadi pengalaman baru tentu saja dalam rangka positif yaitu mendekatkan diri pada yang maha kuasa.  

Aji Mundijati Sasongko Jati atau Panca Gha’ib.

Wahyu Panca Gha’ib, hanya bisa di ketahui oleh pelaku Wahyu Panca Gha’ib, yang benar-benar laku, bukan hanya sekedar melakukan/menjalankan. Artinya; secara sadar dan rela, mau bersipat sebagai Sejatine Sateriyo dan bersikap Sateriyo Sejati. Jika tidak, seumur hiduppun, menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, tidak akan pernah bisa menemukan Wahyu Panca Laku yang menjadi alat Praktek untuk nggelar nggulungnya Wahyu Panca Gha’ib, dan tanpa Wahyu Panca Laku. Dapat di pastikan, sulit, berat, susah, rumit, untuk bisa nggelar gulung Wahyu Panca Gha’ib diamanapun.

Karena Wahyu Panca Gha’ib, adalah urusan Hidup dan Maha Suci Hidup. Bukan yang lain, dan keduanya, adalah GHA’IB tingkat tinggi, yang tidak bisa di jangkau dengan ilmu kesaktian model apapun, dan amal jariyah jenis apapun.
Dan dibawah inilah. Wahyu Panca Laku, yang berhasil saya temukan di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

PROSES;
Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Ketahuilah.
Raga itu diciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari cinta kasih sayang Bapa dan Ibu. Sedang Sukma di ciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari roh empat intisari/anasir.

Raga yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, turun ke dunia, menjadi kalifahnya. Disebut Manusia Hidup (Wong Urip).

roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, sebagai utusan Manusia dengan Tuhan-nya disebut Malaikat.

roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menggoda Manusia. Disebut Jin atau Iblis.

roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, tinggal didalam tubuh Manusia Hidup. Disebut Sukma.

roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk keluar dari tubuh Manusia Hidup. Disebut Arwah.

Doa;
Adalah sebuah permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, tanpa melakukan gerakan, biasanya dilakukan secara spontan.

Sembahyang;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang dilakukan dengan sebuah gerakan.

Mantera;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang biasanya berguna untuk membuka akan Ilmu Hyang Maha Suci Hidup.

Dzikir;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, dengan menyebut asma Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara mengulang-ulang.

PATRAP dan SEMEDHI;
Patrap atau pepatrap hampir sama dengan Semedhi, namun terdapat sedikit perbedaan pada sisi pernafasan, jika patrap kurang memfokuskan pada sisi aturan pernafasan, tetapi Semedhi, lebih memfokuskan pada aturan/pernafasan, patrap lebih fokus pada Doa Semedi tidak.

ENDING;
Wahyu Panca Ghaib itu, memiliki lima Tingkatan Laku Hakikat Hidup. Mengapa disebut tingkatan? Karena disetiap tingkatan dimensinya itu, berbeda pengertian dan Lelakunya, di bawah ini Wahyu Panca Laku yang tersembunyi di dalam Wahyu Panca Gha’ib, yang berhasil saya temukan, dan seharusnya, di temukan dan dimilik pula, oleh semua pelaku Wahyu Panca Ghaib, siapapun dia dan dimanapun dia.

Wahyu Panca Ghaib;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati Urip.

Panca Ghaib dan Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

1. Manembahing Kawula Gusti… “Obahe Pikir, kasebut Kareb”.
2. Manunggaling Kawula Gusti… “Obahe Kareb, kasebut Rasa”.
3. Leburing Kawula Gusti… “Obahe Rasa, kasebut Bathin”.
4. Sampurnaning Kawula Gusti… “Obahe Bathin, kasebut Osik”.
5. Sampurnaning Pati Urip… “Obahe Osik, kasebut Nurullah”.

1. Obahe Pikir, kasebut Kareb – Niyat kang saka pikir iku kasebut Karsa”.
2. Obahe Kareb, kasebut Rasa – Niyat kang saka Kareb kasebut Karya”.
3. Obahe Rasa, kasebut Bathin – Niyat kang saka Rasa kasebut Manteb”.
4. Obahe Bathin, kasebut Osik – Niyat kang saka Bathin kasebut Meneb”.
5. Obahe Osik, kasebut Nurullah – Niyat kang saka Osik kasebut Sujud/Pasrah.

Artinya;
1.Bergeraknya Pikir itu disebut Keinginan.
2. Bergeraknya Keinginan disebut Rasa.
3. Bergeraknya Rasa disebut Bathin.
4. Bergeraknya Bathin disebut Osik.
5. Bergeraknya Osik disebut Nurullah.

1. Niyat yang dari Pikir disebut Kemaunan.
2. Niyat yang dari Keinginan disebut Karya.
3. Niyat yang dari Rasa disebut Mantap.
4. Niyat yang dari Bathin disebut Menep.
5. Niyat yang dari Osik disebut Sujud tunduk Pasrah. Sujud/Tunduk/Pasrah inilah Nurullah, yang disebut Menyatunya Diri/Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup.

Maksudnya;
Segala sesuatu yang berasal karena pemikiran, tanpa didasari dengan rasa yang terdalam, maka semua hanya mencari keuntungan semata, mencari Nama, mendapatkan ketenaran belaka, yang semua itu adalah duniawi, namun jika kita melakukan sesuatu, dengan niat kedalam (sampai tingkat bathin saja) maka semakin kedalam semakin tunduk orang tersebut, apa lagi lebih dalam dari sekedar bathin.

Pikir dan Keinginan, dimiliki oleh orang pada tingkat Manembah/Syareat/Kamadhatu, karena pada tataran ini masih duniawi, Rasa dan Bathin, dimiliki oleh orang pada tataran Manunggal/Hakikat/Rupadhatu, yang sudah mengurangi Duniawi, Osik dan Nurullah dimiliki oleh orang pada tataran Lebur/Makrifat/Arupadhatu.

Pertanya’annya: Jika kita berniat untuk menyembah Hyang Maha Suci Hidup, dari manakah timbulnya niat-ku ini…?!

KLIMAX;
Jawa pada digawa, Arab pada digarab, Budha pada ditata, Hindu pada digugu, Nasrani pada dikanthi.

Artinya:
Arab sama digarap, Jawa sama dibawa, Budha sama ditata, Hindu sama dipercaya, Nasrani sama digandeng.

Maksudnya : Dalam pengertian Hakikat Hidup, tidak membedakan Agama, tetapi lebih condong pada tingkah laku, yaitu tidak mengkotak-kotak, dan tidak dikotak-kotak.

Yang dimaksudkan Hidup itu Mati, adalah Hidup harus dapat mematikan akan Keinginan, sebab Manusia itu, yang paling ditakuti, adalah Kareb atau Keinginannya, sebab ada petuah mengatakan sbb:

Usrege ndonya iku sabenere mung sakecape lambe, yaiku Kareb, nanging tentreme ndonya uga sakecape lambe yaiku Eling, lelakua ngango kekarepanmu, nanging tetekena nganggo Elingmu.

Keruwetan dunia itu sebetulnya Cuma seucap bibir, yaitu Ingin, tetapi tentramnya dunia ini juga hanya seucap bibir yaitu Ingat, Berjalanlah dengan Keinginanmu, tetapi bertekanlah pada ke Ingatanmu.

Artinya; Bahwa dunia ini begitu semrawut, ruwet, onar, dll, semua itu semua itu sebenarnya digerakan oleh rasa kemauan, keinginan manusia itu sendiri guna mecukupi akan keinginan yang tiada habisnya, namun tentramnya dunia ini juga tergantung oleh rasa ingat kita pada Allah maka kita bisa menghentikan sejenak semua kegiatan yang ada, maka berjalanlah dengan Keinginanmu, tetapi selalulah ingatmu, yang dikedepankan, jangan keingananmu.

Untuk itulah, maka pada setiap manusia haruslah berusaha menyatakan atau berjanji pada dirinya, bahwa Aku adalah Rasaning Hyang Maha Suci Hidup, Utusan Hyang Maha Suci Hidup, sebagai penganut, juga menjalankan, serta menyebarkan, merawat akan firman Hyang Maha Suci Hidup, dimana janji dirinya selaku utusan tersebut, tidak boleh diucapkan pada siapapun, salah satu sikap Rasaning Hyang Maha Suci Hidup, adalah; Cinta Kasih Sayang pada semua ciptaan Hyang Maha Suci Hidup ( Hamamangayu/memberi keindahan, mempercantik) terutama Manusia, alam, tumbuh-tumbuhan, Binatang, dll.

Kematian adalah awal dari kehidupan.
Artinya; bahwa hidup didunia itu, sebenarnya jasad/tubuh/raga itu, adalah Robot, sedangkan Rasa yang memiliki adalah ruh/roh, hal ini dapat dibuktikan pada kita yang hidup, disaat kita naik mobil mewah, dan disaat kita naik mobil Butut, kita bisa merasakan, walau mata ini tertutup, namun disaat kita tak bernyawa, dibawa oleh Ambulance yang mewah atau yang buruk kita tidak akan merasakan.

Padahal disaat Raga kita mati, ruh/roh masih tetap hidup, dan kembali pada Sang Pencipta.

Pertanya’an kesatu;
Benarkah langsung kembali ?

Jawabannya;
Jika kita tinggal di Kota A dan Orang Tua kita tinggal dikota B, dimana jarak kota A dan kota B antara 500 km, jika Orang Tua kita memanggil dan kita menyanggupinya, disaat itu pula, kita menghadap orang Tua kita.

Pertanya’an kedua;
Benarkah disaat itu kita sudah di kota B ? dan apakah kita masih ada dikota A ?

Jawabannya;
Kita sudah meninggalkan Rumah kita, tetapi kita masih dikota A, namun lambat laun akan meninggalkan kota A, tetapi belum sampai pada kota B, artinya masih dalam perjalanan.

Jika saja kita kembali menelisik pada awal pencipta’an manusia, yaitu Adam dan Hawa, berapakah usia beliau ? sebutlah 1000 th, sedangkan manusia sekarang berapakah usianya ? sebutlah 100 th, kemanakah yang 900 th ?
Inilah,,, makanya dalam pengertian Jawa dikatakan :

“Urip ning ndonya iku mung sadrema mampir ngombe”
Hidup di dunia itu hanya sekedar mampir minum.

Artinya; kata Mampir menunjukkan bukan tempat yang sebenarnya, berarti dunia ini, bukan tempat kita yang sebenarnya, kita hanya mampir disini, kata mampir juga mengartikan waktu yang sebentar, artinya hidup didunia ini hanya sebentar.

Itulah makna Kematian adalah awal sebuah Kehidupan, dan kembalinya ruh/roh kita, akan memakan beratus-ratus tahun lamanya, didalamnya ruh/roh kita, akan mempertanggung jawabkan, semua perbuatan kita disaat Hidup di dunia.

INTROPEKSI:
Marilah kita menengok dan bertanya pada diri kita, berapakah Usia kita ?
Dalam sehari, berapa kalikah kita mandi ?
Disaat kita mandi, apakah yang kita bersihkan ?
Pernahkah kita memandikan akan ruh/roh kita ?
Bukankah ruh/roh kita yang dibuat oleh Hyang Maha Suci dan kita menyembahnya ?
Mengapa pemberian Hyang Maha Suci Hidup, kita kesampingkan dan tidak kita bersihkan ?

Bagaimanakah cara membersihkan ruh/roh…?!
Memiliki dan Menjalankan Patrap Wahyu Panca Ghaib, sampai berhasil menemukan lima Laku, yang tersembunyi di dalamnya, yang akan di lalui dan di gunakan nantinya. “Bagaimana kita bisa kembali pulang ke rumah, jika tidak tau dan tidak paham jalan yang akan kita lewati, untuk menuju ke rumah, tempat tinggal kita”, seperti itulah peribahasanya. Wallahu a’lam..

Penulis : Ahmad Bahtiar, Sp dI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here